Oleh : Jamaludin / M-714-UI
Setelah tiga hari menembus hutan nan lebat, dari ketinggian 800-an mdpl sampai sekarang kami sampai di batas vegetasi di ketinggian 2800-mdpl. Membuka hutan dengan tramontina, melalui semak berduri, berjalan merangkak bahkan sampai harus bernavigasi karena ruwetnya punggungan di kaki gunung raung. Haus yang terus menghantui sepanjang hari, hanya dengan 500 ml air perhari kami terus mendaki mencari punggungan utama wates yang merupakan akses menuju puncak sejati raung. Bangun, sarapan, dan kembali jalan menggendong ransel besar yang sepanjang hari selalu setia melekat pada punggung kemudian malamnya kami membahas jalur dan menentukan posisi pada peta UTM yang kami bawa. Itu karena gunung Raung yang terus memanggil kami bersembilan untuk sampai untuk sampai ke puncaknya yang sepi.
Jalur yang tidak umum ini, memang memberikan kesan yang berbeda kepadaku. Biasanya kebanyakan pendaki melewati rute utara jalur sumber weringin untuk sampai ke puncak gunung raung, namun jalur tersebut hanya menghantarkan sampai bibir kawah utara gunung raung yang saling berhadapan dengan puncak sejati raung. Bisa saja sampai di sana, tapi butuh keahlian lebih dan keberanian yang tinggi untuk melipiri bibir kawah tipis berpasir. Ada dua jalur dari arah selatan yang pernah di lalui, diantaranya jalur Glenmore yang pertama di buka oleh tim Mapala UI pada tahun 2003 dan jalur kalibaru pada tahun 2002 oleh anak Pataga Surabaya. Kedua jalur tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda tentunya. Dan kami sekarang mencoba menjajaki puncak sejati gunung raung melalui jalur kalibaru, untuk melengkapi koleksi pendakian Mapala UI ke gunung raung lewat jalur selatan.
Berbeda dengan hari sebelumnya, jam 5 pagi kami sudah mulai sarapan dan bersiap untuk berangkat menuju puncak agar tidak kehilangan moment yang indah kjetika di puncak. Dengan perbekalan air 1 liter perorang, makan siang, perlengkapan berkemah untuk jaga-jaga kemalaman di puncak dan peralatan masak. Untuk sampai batas vegetasi di btuhkan sekitar 1 jam perjalanan, setelah sarapan bubur sereal yang di buatkan oleh Yuni sekitar jam 6 kami mulai berjalan. Pagi itu dingin dan kabut masih menyelimuti kami. windbreaker yang kami kenakan hanya mampu menahan dingin beberapa saat saja.
Jauh di seberang arah utara terlihat puncakan yang tertinggi, mungkin itulah yang dinamakan puncak sejati gunung raung. Jaraknya sekitar satu kilometer dari puncak semu, di pisahkan dengan jurang yang di sebut curah malang. Jurang yang memisahkan antara puncak semu raung dengan puncak Glenmore disebelah timur. Untuk mencapai puncak sejati kami harus melewati igir-igir tipis yang sebelah kiri dan kanannya jurang dalam. Itu akses satu-satunya menuju kesana.
Saya mulai merintis jalur, melewati igir-igir tipis dengan di belay Bagus. Setiap kali kaki menginjak dan menancapkan kapak es, batuan pasir mulai dari yang kecil sampai yang sebesar kepala manusia lepas melorot dan jatuh ke jurang. Hal itu membuat detak jantungku berdetak kencang dan meningkatkan waspadaan ku dalam berjalan. Kabut mulai menutupi jarak pandangku dnegan puncak semu raung. Tali penghubungku dengan Bagus sudah habis, berarti saya harus bersiap untuk melakukan upper belay terhadapnya. Saya menancapkan piton dalam-dalam di tambah kapak es sebagai pengaman saat melakukan belay. Walaupun saya yakin jika diantara kami ada yang terjatuh, itu tidak dapat menahan beban kami berdua. Namun, saya melupakan hal-hal seperti itu untuk sementara agar pendakian menjadi lebih tenang hanya sebatas sugesti kalau pengaman yang saya tambatkan dapat menahan kami berdua, untung-untung tidak terjadi. Bagus berjalan menuju saya melewati igir-igir itu, mendekati saya. Tim berikutnya pun mengikutinya, agar jarak antar tim tidak berjauhan.
Di depan kami terlihat sebuah puncakan, itu yang dinamakan puncak 17 karena anak Pataga yang pertama kali menginjakan kaki di sana. Mirip dengan sebuah pyramid, dan itu crux pertama yang harus kami lewati. Dengan membuat anchor mengandalakan besi baja yang sudah lama tertambat di sana Bagus melakukan belay, dan saya mulai melipiri dan memanjat tebing pasir. Kapak es saya ayunkan dan di tancapkan ke tebing tersebut dalam-dalam dengan harapan dapat membantu saya dalam menambah ketinggian. Bukan hanya sekali, namun beberapa kali hingga saya sangat yakin dapat menahan beban saya. Terkadang saya pun menggali tebing pasir itu, untuk membuat teras sebagai pijakan. Agar tim di belakang pun tak kehilangan jejak dan harus membuat pijakan baru, mereka semua mempercayakannya kepada kami berdua. Mereka pun menyusul kami.
Kami semua berkumpul di puncak 17, dan Dadang sebagai climbing leader memutuskan hanya mengirim kami berdua untuk sampai ke puncak sejati. Dengan diberikan Jatah waktu hanya 2 jam. Saya pun mulai melanjutkan pendakian, dan melewati igir tipis itu. Dengan bergaya seperti penunggang kuda, secara perlahan saya melewatinya sejauh 30 meter terpisah dengan Bagus. Kami melakuakn moving together kembali agar dalam dua jam dapat menmpuh perjalanan sampai puncak. Sampai tiba di ujung igir-igir, dan lebarnya sekitar dua meter saya kembali terhambat. Karena harus menuruni igir-igir yang tidak terlihat seberapa dalam di depannya Di seberang kami tebing pasir setinggi 30 meter vertikal menghadang. Apakah itu jalurnya?. Di sana saya sempat berpikir, kayaknya tidak mungkin bisa di lalui. Akan tetapi, kenapa anak Pataga bisa sampai ke puncak sejati?. Bagaimana mereka melewatinya? Jika saya dan Bagus turun kebawah, mungkin akan memakan waktu yang lama untuk menaikinya kembali? Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku.
Saya menunggu Bagus yang masih berjalan dengan hati-hati mendekati saya untuk mendiskusikan crux berikutnya yang akan di hadapi. Disana terdapat pula besi baja tertambat yang jaraknya sekitar 3 meter dari ujung igir-igir, berarti mereka yang pernah mencapai puncak sejati Raung pasti mengandalkannya. Akhirnya, otak pun mengalahkan ketakutan yang selalu menyelimutiku saat itu, dan selalu mendorongku untuk membatalkan niatan ke puncak sejati raung. Saya dan Bagus menyambungkan 4 buah webbing masing-masing berukuran 3 meter dan mengikatnya pada penambat yang sudah ada. Kemudian, melemparkan webbing tersebut ke bawah sebagai alat bantu kami untuk turun dan naik nantinya.
Namun, setelah saya cek kembali dari ujung igir-igir dengan berpegangan pada webbing. Ternyata sambungan webbing tersebut tidak sampai menyentuh dasarnya, masih ada sekitar 5 meter lagi kebawahnya. Tanpa memikirkan bagaimana naiknya nanti, saya meminta Bagus untuk selalu waspada dalam melakukan belay dan menuruninya dengan sangat hati-hati. Akhirnya saya sampai di dasarnya, berjalan sampai ke sebuah ceruk yang jaraknya sekitar 4 meter dari kaki ujung igir-igir tersebut. Itu saya lakukan untuk menghindari batuan dan pasir yang rontok ketika Bagus akan turun. Kemudian menancapkan kapak es dalam-dalam, sebagai pengaman kami berdua.
Bagus pun dengan mulus menuruni crux yang tingginya sekitar 15 meter itu. Tiba-tiba suara HT yang di bawa Bagus berbunyi, rupanya itu suara Dadang yang mungkin sudah tidak bisa melihat kami. Dia memberitahukan kami, waktunya tinggal setengah jam lagi untuk sampai puncak. Bagus pun melalui alat komunikasi yang di bawa memberikan pesan untuk meminta tambahan waktu lebih lagi kepada Dadang, karena setengah jam rasanya masih kurang untuk sampai puncak yang tinggal setengah perjalanan lagi. Sangat di sayangkan jika waktu setengah jam itu habis ketika kami berdua belum sampai dan harus kembali lagi ke puncak 17 padahal puncak sejati Raung di depan mata. Dadang memberikan kesempatan kami, dengan menambahkan waktu menjadi satu jam.
Setelah sampai di sana, semua pertanyaan saya dapat terjawabkan. Jalur untuk sampai di puncak sejati, harus menuruni lembahan yang terlihat seperti batuan rontok dari puncak 17, dan ternyata batuan tersebut lebih kokoh ketimbang igir-igir yang kami lewati sebelumnya. Rasa penasaran dalam diri semakin besar, walaupun waktu yang diberikan Dadang sudah habis. Mungkin saya akan terus, mendaki sampai menginjakan kaki di puncak tertinggi gunung Raung. Mungkin panggilan gunung raung membuatku kesetanan, dan ingin dengan segera tiba di puncak tertinggi itu.
Kabut mulai hilang, kami pun dapat melihat teman-teman yang sedang memantau kami dari puncak 17 dengan jelas. Di antara saya dan Bagus dengan tim kami dengan tim yang memantau saling berkomunikasi. Mereka pun mengarahkan pendakian kami dari atas sana. Namun itu tak berlangsung lama kabut pun mulai menutupi jarak pandang antara kami berdua dengan mereka di sana. Tumpukan batu yang seperti gigi dari puncak 17 kami lewati, sangat kokoh melekat dengan gunung Raung. Tepat pukul 14.01 kami tiba di puncak sejati gunung raung, rasa haru dan bangga terlihat dari teman-teman yang selalu memantau kami berdua dari puncak 17 diseberang sana.
Tak begitu punya waktu lama kami di puncak, setelah menikmati pemandangan kawah yang begitu lebar, dan berfose dengan mengibarkan segitiga kebanggaan Mapala UI. Akhirnya, tiba waktu perpisahan antara kami dengan puncak sejati gunung raung. Dengan segera saya dan Bagus menuruni jalur yang sama, walau awalnya kami sempat disorientasi di puncak karena terlalu banyak celah yang bisa di lewati. Celah tersebut mengakses ke tempat yang sama pula. Teman kami di puncak 17 sudah menunggu untuk merayakan kemenangan puncak sejati yang telah kami raih. Mereka menyambut bangga kedatangan kami, kembali kami teriakan Uoooo secara bersamaan di puncak 17 sebagai tanda kemenangan. (Jamaludin)
September 7th, 2008 at 01:00
best neteller online casino…
zooms!Verne.Gambia:tracked …
September 2nd, 2008 at 01:10
home insurance miami fl…
Prenticed Antonovics desire …
September 1st, 2008 at 14:09
germania home insurance amarillo texas…
blackening!pleas:prettiness.finicky Semiticize …
August 31st, 2008 at 20:17
home insurance compare uk…
Wolff avidity widest equation petty plot….
August 30th, 2008 at 06:03
subaru legacy insurance…
sunbeams.stings?cartwheel earthliness rearranges …
August 16th, 2008 at 08:27
salut buat para pendaki.jadi pengen ke raung juga
August 16th, 2008 at 08:26
salut buat para pendaki.jadi pengen juga ke raung
July 23rd, 2008 at 02:39
saluut, kalian memang yang terbaik……………
mengingatkan kami pada tahun 1997 silam atas nama pecinta alam SMA 3 DEPOK, “EKSTANBA” yang pernah juga menginjakkan kaki di bibir kawah gunung raung melalui jalur sumberweringin.