JAMBI — Tercekat rasanya hati mendengar penuturan pemuka adat di Desa Pulau Tengah, Jambi. Menurutnya, Sungai Langkup yang akan kami tuju, teramat jahat. “Ada banyak batu besar di dalamnya. Air akan mengalir masuk ke dalam batu-batu besar tersebut. Memakan keseluruhan air dan apa saja yang masuk di dalamnya. Oleh karena itulah sungai ini dinamakan Langkup. Atau sama dengan menangkup seluruh badan sungai,” katanya.

Pagi hari tanggal 10 Agustus 2005, masih teramat sepi saat dua kelompok pemetaan mulai bersiap menuju titik start. Rencananya tim yang berjumlah sembilan orang ini akan dipecah dua. Mulai masuk bersama dari titik tengah section pengarungan yang kami pilih, yaitu pertemuan Sungai Langkup dengan Sungai Penjuaran. Kedua tim nantinya akan berpisah. Satu tim menuju hulu, mencapai pertemuan Sungai Langkup dengan Sungai Mantenang. Sedangkan tim yang lain akan bergerak menuju hilir, menyelesaikan pemetaan saat menemui Desa Rantau Kermas. Perjalanan menuju titik pertemuan sungai ternyata mencapai satu hari lamanya, memaksa tim menyumpah-nyumpah, karena beratnya jalur menuju sungai. Juferdy, salah satu anggota tim yang berbadan besar, sempat juga ngedumel, karena lajur jalan yang seperti tak layak untuk manusia. Beberapa kali harus menunduk, melewati jalur air yang teramat licin, atau bahkan membuka sedikit terowongan supaya badan mereka masuk. Seperti jalur babi saja. Setelah tujuh jam menyuruk-nyuruk, akhirnya kesembilan orang itu mencapai juga pinggir sungai.
Sampai di pinggir sungai bukannya keindahan menyapa, malah penghuni hutan yaitu pacet mulai menyapa. Merayapi badan kami tanpa disadari. Menyebalkan rasanya. Berdarah-darah di sana-sini. Sementara Pak Jahardin, penduduk lokal yang kami bawa, cuma tersenyum-senyum geli. Karena ternyata lelaki tua yang memang dikenal sebagai spesialis penyusur sungai Batang Langkup ini, memiliki resep jitu menghindar dari pacet. ‘’Oleskan saja daun tembakau ke sepatu, ‘’ ujarnya menyeringai. Malam hari pertama diputuskan kedua tim menginap bersama di pinggir sungai. Di bawah sebuah bivak alam yang ditinggalkan pemancing. Malam terasa dingin di pinggir sungai, untung Pak Jahardin cukup pintar mengisi waktu. Ia langsung mencari bambu panjang, kemudian dipasangi jaring. Tampaknya ia ingin menangkap ikan semah yang terkenal kelezatannya. Benar saja, tak berapa lama, lelaki dengan tubuh mungil itu kembali dengan ikan di tangannya. Dan jadilah kami pesta ikan semah bakar malam itu.
Sebelum jam 08.00 hari berikutnya, kedua tim bersiap untuk berpisah. Tim pertama yang terdiri dari Juferdy, Nana, Rosyda dan Ilham mulai bergerak menuju hulu. Sementara tim kedua yang terdiri dari empat lelaki perkasa yaitu Herbayu, Fanny Winara, Bayu Sembodo dan Rekso mulai bergerak juga menuju hilir. Tebing Tinggi Tim yang menuju hulu mendapat tugas pemetaan lebih berat, karena lebih jauhnya jarak yang harus ditempuh. Namun hal itu terasa signifikan dengan kemungkinan jalur lebih landai yang akan mereka temui. Dan ini sangat berbeda dengan jalur yang harus dilalui tim pemetaan menuju hilir. Di mana diperkirakan tim akan menemui tebing-tebing tinggi dan curam di sepanjang sungai. Serta gradien penurunan sungai yang lebih tinggi, yang mana ini berarti juga kemungkinan banyaknya jeram yang harus dipetakan. Benar saja. Dalam presentasi yang dilakukan tiga hari kemudian. Tim pemetaan menuju hilir ini yang terasa berat dalam presentasinya. Rekso, yang berambut gondrong, sempat memijat kepala beberapa kali. Mencoba mengingat-ingat detail jeram yang sudah mereka petakan. Mungkin baginya, mempresentasikan deretan jeram yang bertipe terus-menerus, apalagi sejauh satu kilometer, merupakan hal yang teramat baru baginya. “Sampai lelah kami harus memetakannya. Apalagi jeram di daerah menjelang Desa Rantau Kermas, bisa berturut-turut tanpa jeda hingga dua kilo jauhnya,” ucapnya.
Akhirnya saking frustasinya, ia menjawab beberapa pertanyaan anggota tim lain yang teramat antusias. Ia banyak menyarankan agar anggota tim mulai menyiapkan sistem untuk berbagai kondisi darurat yang mungkin tercipta. Sebab menurutnya, bukan tak mungkin segala macam konsep pengarungan dengan sistem darurat akan tercipta. Seperti me-lining perahu melalui pinggir-pinggir sungai. Atau melakukan portaging, atau mengangkat perahu melewati pinggir karena beratnya jalur jeram yang harus dilalui. Memang, sungai yang jernih terjaga serta jeram yang menantang, bisa jadi sebuah hal yang jarang ditemukan di sungai-sungai Indonesia. Gambaran dari tim hilir membuat ekspedisi ini semakin terasa menggairahkan. Sebuah harga yang patut kami terima, setelah berlelah-lelah hingga berbulan-bulan untuk menyiapkannya.